You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.

Sistem Informasi Kalurahan SIDOREJO

Kep. Lendah, Kab. Kulon Progo, Prov. DI Yogyakarta
Info

Kiai Jangkung Pencetus Nama Kampung Lendah di Mata Cak Nun


[lendah.kulonprogokab.go.id], 25/8/2019. Siapa sebenarnya Kiai Jangkung? Apa kelebihan beliau? Bagaimana beliau mengamalkan ajaran agama Islam? Adalah sekelumit pertanyaan yang sampai saat ini masih banyak versi jawabannya.

Kiai Jangkung memiliki beberapa nama lain, diantaranya adalah; Kiai Landoh, Saridin, Syarifuddin, juga ada yang menyebut Sayyid Raden Syarifuddin. Cerita tentang Kiai Jangkung dapat ditemukan di beberapa tempat, di Pati Jawa Tengah, Boyolali, Palembang  dan Lendah Kulon Progo yang memiliki ikatan batin kuat karena beliau pernah tinggal di wilayah itu. Demikian pula dengan makam beliau, yang diketahui sementara ada dua tempat yakni di Lendah dan di Pati. Baca juga : Sepak Terjang Kiai Landoh yang Mengharukan

Sebegitu misterius dan melegendanya Kiai Jangkung beberapa ulama menggambarkan tentang sosok beliau, salah satunya adalah budayawan Emha Ainun Najib atau lebih sering dipanggil Cak Nun. Berikut ini adalah kisah yang Kiai Jangkung yang diceritakan oleh Cak Nun dalam beberapa tulisan beliau berjudul "Syahadat Saridin".

Dikisahan Kiai Jangkung muda bernama Saridin adalah santri dari Sunan Kudus. Ia banyak diremehkan oleh teman-teman santri lainnya, karena penampilannya yang sangat lugu, sederhana dan agak "nyleneh". Dibalik keluguan Saridin sebenarnaya beliau memiliki kelebihan dalam hal ketaatan pada Tuhannya.

Suatu hari saat tes baca syahadat untuk para santri, tibalah giliran Saridin untuk dites bacaan syahatnya oleh Sunan Kudus. 

Waktu yang diminta oleh Saridin untuk mempersiapkan diri telah dipenuhi. Dan kini ia harus membuktikan diri. Semua santri, tentu saja juga Sunan Kudus, berkumpul di halaman masjid.

Dalam hati para santri sebenarnya Saridin setengah diremehkan. Tapi setengah yang lain memendam kekhawatiran dan rasa penasaran jangan-jangan Saridin ternyata memang hebat.

Sebenarnya soalnya di sekitar suara, kefasihan dan kemampuan berlagu. Kaum santri berlomba-lomba melaksanakan anjuran Allah, Zayyinul Qur’an ana biashwatikum – hiasilah Qur’an dengan suaramu.

Membaca syahadat pun mesti seindah mungkin.

Di pesantren Sunan Kudus, hal ini termasuk diprioritaskan. Soalnya, ini manusia Jawa Tengah: lidah mereka Jawa medhok dan susah dibongkar. Kalau orang Jawa Timur lebih luwes. Terutama orang Madura atau Bugis, kalau menyesuaikan diri dengan lafal Qur’an, lidah mereka lincah banget.

Lha, siapa tahu Saridin ini malah melagukan syahadat dengan laras slendro atau pelog Jawa.

Tapi semuanya kemudian ternyata berlangsung di luar dugaan semua yang hadir. Tentu saja kecuali Sunan Kudus, yang menyaksikan semua kejadian dengan senyum-senyum ditahan.

Ketika tiba saatnya Saridin harus menjalani tes baca syahadat, ia berdiri tegap. Berkonsentrasi. Tangannya bersedekap di depan dada. Matanya menatap ke depan. Ia menarik napas sangat panjang beberapa kali. Bibirnya umik-umik [komat-kamit] entah membaca aji-aji apa, atau itu mungkin latihan terakhir baca syahadat.

Kemudian semua santri terhenyak. Saridin melepas kedua tangannya. Mendadak ia berlari kencang. Menuju salah satu pohon kelapa, dan ia pilih yang paling tinggi. Ia meloncat. Memanjat ke atas dengan cepat, dengan kedua tangan dan kedua kakinya, tanpa perut atau dadanya menyentuh batang kelapa.

Para santri masih terkesima sampai ketika akhirnya Saridin tiba di bawah blarak-blarak [daun kelapa kering] di puncak batang kelapa. Ia menyibak lebih naik lagi. Melewati gerumbulan bebuahan. Ia terus naik dan menginjakkan kaki di tempat teratas. Kemudian tak disangka-sangka Saridin berteriak dan melompat tinggi melampaui pucuk kelapa, kemudian badannya terjatuh sangat cepat ke bumi.

Semua yang hadir berteriak. Banyak di antara mereka yang memalingkan muka, atau setidaknya menutupi wajah mereka dengan kedua telapak tangan.

Badan Saridin menimpa bumi. Ia terkapar. Tapi anehnya tidak ada bunyi gemuruduk sebagaimana seharusnya benda padat sebesar itu menimpa tanah. Sebagian santri spontan berlari menghampiri badan Saridin yang tergeletak. Mencoba menolongnya. Tapi ternyata itu tidak perlu.

Saridin membuka matanya. Wajahnya tetap kosong seperti tidak ada apa-apa. Dan akhirnya ia bangkit berdiri. Berjalan pelan-pelan ke arah Sunan Kudus. Membungkuk di hadapan beliau. Takzim dan mengucapkan, sami’na wa atha’na -aku telah mendengarkan, dan aku telah mematuhi.

Gemparlah seluruh pesantren. Bahkan para penduduk di sekitar datang berduyun-duyun. Berkumpul dalam ketidakmengertian dan kekaguman. Mereka saling bertanya dan bergumam satu sama lain, namun tidak menghasilkan pengertian apa pun.

Akhirnya Sunan Kudus masuk masjid dan mengumpulkan seluruh santri, termasuk para penduduk yang datang, untuk berkumpul. Saridin didudukkan di sisi Sunan. Saridin tidak menunjukkan gelagat apa-apa. Ia datar-datar saja.

“Apakah sukar bagi kalian memahami hal ini?” Sunan Kudus membuka pembicaraan sambil tetap tersenyum. “Saridin telah bersyahadat. Ia bukan membaca syahadat, melainkan bersyahadat. Kalau membaca syahadat, bisa dilakukan oleh bayi umur satu setengah tahun. Tapi bersyahadat hanya bisa dilakukan oleh manusia dewasa yang matang dan siap menjadi pejuang dari nilai-nilai yang diikrarkannya.”

Para santri mulai sedikit ngeh, tapi belum sadar benar.

“Membaca syahadat adalah mengatur dan mengendalikan lidah untuk mengeluarkan suara dan sejumlah kata-kata. Bersyahadat adalah keberanian membuktikan bahwa ia benar-benar meyakini apa yang disyahadatkannya. Dan Saridin memilih satu jenis keberanian untuk mati demi menunjukkan keyakinannya, yaitu menjatuhkan diri dari puncak pohon kelapa.”

Di hadapan para santri, Sunan Kudus kemudian mewawancarai Saridin: “Katamu tidak takut badanmu hancur, sakit parah atau mati karena perbuatanmu itu?”

“Takut sekali, Sunan.”

“Kenapa kamu melakukannya?”

“Karena syahadat adalah mempersembahkan seluruh diri dan hidupku.”

“Kamu tidak menggunakan otakmu bahwa dengan menjatuhkan diri dari puncak pohon kelapa itu kamu bisa cacat atau meninggal?”

“Aku tahu persis itu, Sunan.”

“Kenapa kau langgar akal sehatmu?”

“Karena aku patuh kepada akal sehat yang lebih tinggi. Yakni bahwa aku mati atau tetap hidup itu semata-mata karena Allah menghendaki demikian, bukan karena aku jatuh dari pohon kelapa atau karena aku sedang tidur. Kalau Allah menghendaki aku mati, sekarang ini pun tanpa sebab apa-apa yang nalar, aku bisa mendadak mati.”

“Bagaimana kalau sekarang aku beri kau minum jamu air gamping yang panas dan membakar tenggorakan dan perutmu?”

“Aku akan meminumnya demi kepatuhanku kepada guru yang aku percaya. Tapi kalau kemudian aku mati, itu bukan karena air gamping, melainkan karena Allah memang menghendaki aku mati.”

Sunan Kudus melanjutkan: “Bagaimana kalau aku mengatakan bahwa tindakan yang kau pilih itu memang tidak membahayakan dirimu, insya Allah, tetapi bisa membahayakan orang lain?”

“Maksud Sunan?”

“Bagaimana kalau karena kagum kepadamu lantas kelak banyak santri menirumu dengan melakukan tarekat terjun bebas semacam yang kau lakukan?”

“Kalau itu terjadi, yang membahayakan bukanlah aku, Sunan, melainkan kebodohan para peniru itu sendiri,” jawab Saridin, “Setiap manusia memiliki latar belakang, sejarah, kondisi, situasi, irama dan metabolismenya sendiri-sendiri. Maka Tuhan melarang taqlid, peniruan yang buta. Setiap orang harus mandiri untuk memperhitungkan kalkulasi antara kondisi badannya dengan mentalnya, dengan keyaknannya, dengan tempat ia berpijak, serta dengan berbagai kemungkinan sunatullah atau hukum alam permanen. Kadal jangan meniru kodok, gajah jangan memperkembangkan diri seperti ular, dan ikan tak usah ikut balapan kuda.”

“Orang memang tak akan menyebutmu kadal, kuda, atau kodok, melainkan bunglon. Apa katamu?”

“Kalau syarat untuk terhindar dari mati atau kelaparan bagi mereka adalah dengan menyebutku bunglon, aku mengikhlaskannya. Bahkan kalau Allah memang memerintahkanku agar menjadi bunglon, aku rela. Sebab diriku bukanlah bunglon, diriku adalah kepatuhanku kepada-Nya.”

Demikian sepenggal cerita Kiai Jangkung muda atau lebih dikenal sebagai Saridin yang telah memberi nama kampung Lendah dan kini dijadikan salah satu Kecamatan yang ada di Kabupaten Kulon Progo. Baca juga: Mengunjungi Makam Kiai Jangkung di Lendah

Makam Kiai Landoh di Lendah

Kiai Jangkung dimakamkan di pemakaman umum Pedukuhan Lendah, Desa Jatirejo Kecamatan Lendah Kabupaten Kulon Progo, warga sekitar sangat menghormati keberadaannya. Semasa hidupnya Kiai Jangkung dikenal sebagai seorang yang dermawan dan suka menolong. Beliau adalah tokoh penyebar agama Islam di wilayah Lendah. (AWB)

Referensi:
https://sufimuda.net/2009/06/01/syahadat-saridin/

Bagikan artikel ini: