You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Logo Desa SIDOREJO
Logo Desa SIDOREJO
SIDOREJO

Kec. Lendah, Kab. Kulon Progo, Provinsi DI Yogyakarta

Selamat Datang di Website Kalurahan Sidorejo

Sejarah Dusun Jurug, Kalurahan Sidorejo

08 Agustus 2023 Dibaca 1.727 Kali
Sejarah Dusun Jurug, Kalurahan Sidorejo

Sebelum menjadi Kalurahan Sidorejo, wilayah Sidorejo terdiri dari empat Kalurahan yang meliputi Jurug, Senden, Tubin, dan Ledok. Keempat Kalurahan ini kemudian digabung menjadi satu entitas Kalurahan Sidorejo pada sekitar tahun 1946. Jurug, sebagai salah satu padukuhan di Kalurahan Sidorejo memiliki sejarah tersendiri. Dulunya, Jurug adalah kelurahan yang terdiri dari tiga padukuhan yakni Jurug, Kwarakan, dan Diran. Di masa lalu, Jurug masih merupakan bagian dari wilayah Grojogan dengan mata air dekat bendungan dan pohon ingas, serta mengandung sejarah religius seperti napak tilas kyai sangsang dan kyai lando. Sejarah Jurug memiliki akar yang dalam dalam pengembangan agama, meskipun ada pengaruh campuran kejawen. Pada tahun 1908 M, Kalurahan Jurug didirikan di bawah kepemimpinan lurah pertama bernama Wongso Leksono. Wilayah ini awalnya terdiri dari kelurahan Jurug dengan padukuhan-padukuhan yang berbeda. Namun, seiring berjalannya waktu, Jurug berkembang menjadi Sidorejo yang tergabung dengan kalurahan lainnya. Wilayah Kalurahan Jurug mencakup Kwarakan dan Diran, sedangkan Senden mencakup Karang dan Geden. Setelah bergabung menjadi Sidorejo, dukuh pertama lahir yaitu Mbah Mento Ikromo. Lurah Sidorejo telah mengalami beberapa pergantian kepemimpinan, di antaranya Bu Surti Wahyuni, Pak Sunardi, dan Pak Sutrisna. Pada awalnya, Kalurahan Jurug memiliki tiga dukuh yaitu Mbah Mento, Ibu Sariyem (anak Mbah Mento), dan Pak Rismawan (cicit Mbah Mento). Setelah bergabung menjadi Sidorejo, wilayah ini terbagi menjadi 14 padukuhan. Proses penggabungan tersebut terjadi pada sekitar tahun 1946 dimana Lurah pertama sementara adalah Mbah Warso Utomo dari Kalurahan Senden, yang kemudian digantikan oleh Lurah Ledok. Meskipun hingga saat ini, beberapa detail tentang perubahan wilayah belum diketahui secara pasti, pembentukan Kalurahan Sidorejo membawa perubahan signifikan dengan pembagian menjadi 14 padukuhan.

Pada tahun 1975-1978, ada perkembangan dengan berdirinya jalan-jalan panca marga di bawah pemerintahan Presiden Soeharto. Program Panca Marga menghadirkan kemajuan dengan pembangunan jalan lebar di wilayah Jurug, yang pada awalnya dikelola oleh Mbah Mento. Selama waktu ini, wilayah tersebut mengalami perubahan dari jalan setapak menjadi jalan yang lebih baik. Namun, sejarah Jurug sebelumnya masih teringat oleh Bapak Parman meskipun beberapa informasi terputus karena hilangnya sumber informasi. Sebagai catatan penting, kehidupan masyarakat Jurug telah mengalami perkembangan pesat sejak era Orde Baru, dan berbagai kegiatan komunitas seperti Dasawisma, PKK, dan KWT telah menjadi bagian penting dari kehidupan di Jurug. Meskipun ada sejumlah perubahan struktural dan nama kelurahan, kehidupan masyarakat dan perkembangan wilayah terus berlanjut di Kalurahan Sidorejo, khususnya di Dusun Jurug. Jurug mengalami transformasi signifikan setelah tahun 1994, dimana PKAK memberikan bantuan dari luar negeri untuk pengembangan wilayah, termasuk dukungan pendidikan, kesejahteraan sosial, dan infrastruktur. Meskipun sejarah pasti Jurug kurang jelas karena kurangnya bukti secara tertulis, informasi yang ada menggambarkan perjalanan dan perubahan yang dialami oleh wilayah ini dari masa ke masa.

Dusun Jurug sendiri memang tidak memiliki riwayat sejarah yang tercatat. Mayoritas penduduknya hidup dengan gaya hidup sederhana dan kurang pengalaman, serta mayoritas tidak mendapatkan pendidikan formal yang tinggi karena kondisi lingkungan. Meskipun demikian, sejak kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, meskipun kurang dalam kecerdasan, masyarakat di Dusun Jurug tetap menjunjung tinggi nilai gotong royong dan semangat kebersamaan yang harmonis. Pada tahun 1945, mereka turut berjuang sebagai sukarelawan, menjaga keamanan antar Dusun di malam hari, dan merasakan ketenangan meskipun ada gencatan senjata di berbagai tempat akibat penjajahan. Dusun Jurug mengandalkan prinsip wilujeng, guyub, rukun, dan gotong royong dalam mengatur kehidupan masyarakatnya. Selama masa penjajahan, kelangkaan pangan membuat mereka bersyukur dengan hanya makan sekali sehari. Meskipun tidak ada warisan sejarah tertulis, Dusun Jurug sampai saat ini tetap menjaga tradisi dan nilai-nilai leluhur.

Selain sejarah mengenai kepemimpinan dan perkembangan dari Dusun Jurug, dusun ini juga memiliki situs-situs bersejarah sebagai cikal bakal terbentuknya dusun. Situs sejarah yang ada sebaiknya dijaga dan dirawat dengan baik sebagai bentuk untuk menghargai leluhur dusun. Berikut beberapa situs sejarah yang ada di Dusun Jurug, Kalurahan Sidorejo.

  1. Sumur KembarSumur ini juga disebut dengan Sumur Manten. Sumur Kembar merupakan tempat Eyang Sri Wangi. Aliran air dari sumur ini sampai ke Gunung Merapi. Pihak Keraton ketika ada hajatan, biasanya masih mengambil air di sumur ini karena masih satu garis imajiner. Perjalanan untuk mengambil air dari sumur ini ditempuh menggunakan andong.
  2. Sumur GayamSumur ini satu aliran dengan kedung ingas.
  3. Sumur CibukMata air dari sumur ini berada dibawah pohon dan masih satu aliran dengan kedung ingas.
  4. Watu JonggolWatu jonggol merupakan sebuah batu yang berada dalam satu lingkup dan terdiri dari 4 batu-batu. Pada awalnya batu ini sangat tinggi dan digunakan untuk batu nisan, namun sekarang kondisinya sudah tertimbun tanah jadi tidak setinggi dulu.
  5. Sumur MudalSumur ini dulunya sangat besar seperti kolam. Aliran dari sumur ini mengalir sampai ke sungai dekat Watu Kursi
  6. Watu KursiWatu kursi ini dulunya adalah milik Mbah Kasan Ali. Bentuk dari watu kursi ini masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah. Aliran air nya berasal dari Sumur Mudal dan mengalir hingga ke daerah Panjatan. Watu kursi ini terbagi menjadi beberapa, dan dulunya menaruhnya sembarangan sehingga menghadap kemanapun.
  7. Kedung IngasKedung ingas merupakan salah satu objek wisata yang masih alami. Air yang ada di kedung ingas dulu lebih jernih dan bening. Habitat asli yang ada di kedung ingas yakni ikan benggel, kura-kura, kepiting, dan udang. Sumur yang mengaliri kedung ingas diantaranya yaitu sumur manten, sumur gayam, sumur cibuk, dan sumur panguripan. Sumur-sumur tersebut bersatu di kedung ingas dan berada di tengah. Di kedung ingas sebenarnya terdapat sebuah gua, namun seiring dengan berjalannya waktu saat ini sudah tertutup. Kemudian dulu juga air yang ada di kedung penuh dan batunya mengapung, namun sekarang air yang ada hanya tinggal sedikit.
  8. Sumur GedeSumur ini dulunya bagus sekali sebelum pada akhirnya dibangun oleh pemerintah. Aliran airnya berasal dari bawah pohon.

Semua situs sejarah tersebut haruslah dijaga dan dirawat keberadaannya. Misalkan ada yang rusak dapat diperbaiki oleh masyarakat setempat secara bersama-sama agar nilai sejarah dari para leluhur tetap dilestarikan dengan baik.

 

Bagikan Artikel Ini
Beri Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui oleh admin
CAPTCHA Image

APBDes 2026 Pelaksanaan

APBDes 2026 Pendapatan

APBDes 2026 Pembelanjaan